Laman

Keutamaan Dzikir setelah Sholat Subuh

" KEUTAMAAN DZIKIR SETELAH SHOLAT SUBUH "

Diriwayatkan oleh Tirmidzi, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda:

"Barangsiapa yang mengucapkan doa setiap selesai sholat Subuh, dan ia masih melipatkan kedua kakinya serta belum berkata-kata yang lain, yaitu doa:

Laa Ilaaha Illa Allahu Wahdahu Laa Syarikala Lahu, Lahulmulku walahulhamdu, yuhyi wayumitu, wahuwa 'ala kulli syai'in qodiir..

Sebanyak 10 kali, maka Allah tuliskan baginya 10 kebaikan dan menghapus darinya 10 kejelekan, mengangkat derajatnya sebanyak 10 derajat, dan pada hari itu ia berada di dalam perlindungan dari setiap perkara tidak mengenakkan dan dijaga dari setan. Tidak ada yang bisa membinasakannya hari itu selain perbuatan syirik kepada Allah..

Diriwayatkan oleh Tirmidzi (no.3811) kitab ad- Da'awat, dan ia berkata, "Hadits hasan shohih"..

Semoga kita bisa mengamalkannya dan menjadi orang yang selalu sambung menyambung kebaikan dengan menyebarkannya. Aamiin..

Semoga Bermanfa'at

Hikmah Sholat Tahiyatul Masjid

( SHALAT ) DIBALIK HIKMAH SHALAT TAHIYATUL MASJID - Melaksanakan tahiyatul masjid merupakan bentuk pemuliaan terhadap masjid sebagai baitullah (rumah Allah). Kedudukannya seperti mengucapkan salam saat memasuki rumah atau seperti mengucapkan salam saat bertemu saudara seiman. Imam  Nawawi rahimahullaah berkata, "Sebagian mereka (ulama) mengungkapkannya dengan Tahiyyah Rabbil Masjid (menghormati Rabb -Tuhan yang disembah dalam- masjid), karena maksud dari shalat tersebut sebagai kegiatan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, bukan kepada masjidnya, karena orang yang memasuki rumah raja, ia akan menghormat kepada raja bukan kepada rumahnya." (Lihat: Hasyiyah Ibnu Qasim: 2/252)

Ketika seseorang memasuki masjid, janganlah ia duduk sehingga melaksanakan shalat dua rakaat yang disebut dengan tahiyatul masjid. Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

"Jika salah seorang kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum mengerjakan shalat dua rakaat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Tujuan dari pelaksanaan shalat dua rakaat ini adalah untuk menghormati masjid. Karena masjid memiliki kehormatan dan kedudukan mulia yang harus dijaga oleh orang yang memasukinya. Yaitu dengan tidak duduk sehingga melaksanakan shalat tahiyatul masjid ini. Karena pentingnya shalat ini, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap memerintahkan seorang sahabatnya - Sulaik al-Ghaathafani - yang langsung duduk shalat memasuki masjid untuk mendengarkan khutbah dari lisannya. Ya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak membiarkannya duduk walaupun untuk mendengarkan khutbah dari lisannya, maka selayaknya kita memperhatikan shalat ini.

Begitu juga Jabir radhiyallahu 'anhu, saat ia datang ke masjid untuk mengambil harga untanya yang dijualnya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau memerintahkannya untuk shalat dua rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dari hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dia pernah masuk masjid, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya padanya, "Apakah kamu sudah shalat dua rakaat?" Dia menjawab, "Belum." Beliau bersabda, "Bangunlah, laksanakan dua rakaat!"

Maka berdasarkan dalil-dalil tersebut di atas, seluruh ulama sepakat tentang disyariatkannya shalat tahiyatul masjid (Fathul Baari: 2/407). Bahkan sebagiannya -khususnya dari madzhab Dzahiriyah- berpendapat wajib dengan berpatokan pada dzahir hadits. Sedangkan jumhur ulama berpendapat sunnah, berdasarkan beberapa hadits lain yang memalingkannya kepada anjuran. Di antaranya, hadits tentang shalat lima waktu, maka ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Apakah aku punya kewajiban selainnya?" Beliau menjawab, "Tidak, kecuali bila engkau mengerjakan yang sunnah." (HR. Bukhari dan Muslim)

( Siapa yang dikecualikan dari perintah ini? )

Ada beberapa orang yang dikecualikan dari perintah shalat tahiyatul masjid, yaitu:

- Khatib Jum'at, apabila dia masuk masjid untuk khutbah Jum'at, tidak disunnahkan shalat dua rakaat. Tapi dia langsung berdiri di atas mimbar, mengucapkan salam lalu duduk untuk mendengarkan adzan, kemudian baru menyampaikan khutbah.
   
- Pengurus masjid yang berulang-kali keluar masuk masjid. Kalau ia melaksanakan shalat tahiyatul masjid setiap masuk masjid, maka sangat memberatkan baginya.
   
- Orang yang memasuki masjid saat imam sudah mulai memimpin shalat berjama'ah atau saat iqamah dikumandangkan, maka ia bergabung bersama imam melaksanakan shalat berjama'ah. Karena shalat fardhu telah mencukupi dari melaksanakan tahiyatul masjid. (Lihat Subulus Salam, Imam al-Shan'ani: 1/320)

( Di Akhri Zaman Tahiyatul Masjid Diremehkan )

Syaikh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa'ah menyebutkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah munculnya sikap meremehkan sunnah-sunnah yang dianjurkan Islam dan Syi'ar-syi'ar Allah Subhanahu wa Ta'ala. Salah satunya adalah tidak melaksanakan tahiyatul masjid saat memasukinya, sebagaimana yang disinyalir dalam sebuah hadits, dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku Mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَمُرَّ الرَّجُلُ فِي الْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ

"Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah seseorang melalui (masuk) masjid, namun tidak melakukan shalat dua rakaat di dalamnya." (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam Silsilah al-Ahadits al Shahihah: 2/253 no. 649 dengan memberikan catatan kaki di bawahnya bahwa dalam sanadnya ada yang dhaif, tapi ia memiliki jalur lain dari Ibnu Mas'ud yang memperkuat sanadnya).

Dan dalam riwayat lain disebutkan;

أَنْ يَجْتَازَ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ فَلَا يُصَلِّي فِيْهِ

"Orang melalui masjid tapi tidak melakukan shalat di dalamnya." (HR. Al-Bazzar dan dishahihkan oleh Al-Haitsami dalam Majma'uz Zawaid: 7/329)

Dan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُتَّخَذَ المَسَاجِدُ طُرُقًا

"Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah masjid dijadikan sebagai jalan (tempat berlalu lalang)." (HR. Musnad al-Thayalisi dan Al-Mustadrak al-Hakim. Shahih Al-Jami' no. 5899)

Bahkan secara jelas Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang menjadikan masjid sebagai tempat lalu lalang tanpa ditegakkan shalat tahiyatul masjid ketika memasukinya.

لَا تَتَّخِذُوا المَسَاجِدَ طُرُقًا ، إِلَّا لِذِكْرٍ أَوْ صَلَاةٍ

"Janganlah kalian jadikan masjid sebagai jalan (tempat lewat), kecuali untuk berdzikir atau shalat." (HR. Thabrani dalam Al-Mu'jam al-Kabir: 12/314 dan al-Ausath: 1/14. "Sanad ini hasan, seluruh rijalnya (perawinya) tsiqat (terpercaya)." Lihat: Silsilah Shahihah no. 1001)

Sedangkan maksud menjadikan masjid sebagai jalan adalah dengan menjadikannya sebagai tempat lewat atau berlalunya manusia untuk memenuhi hajat mereka. Masuk dari satu pintu masjid dan keluar dari pintu lainnya tanpa melaksanakan shalat di dalamnya. Sedangkan orang yang masuk masjid dan shalat di dalamnya tidak dikategorikan sebagai orang yang menjadikan masjid sebagai tempat lalu lalang yang dilarang.

Al-Hasan al-Bashri ternah ditanya, "Tidakkah Anda benci kalau ada seseorang lewat di dalam masjid lalu tidak shalat di dalamnya? Beliau menjawab, "Pasti (saya benci)." (Lihat al-Mushannaf milik Abdul Razaq: 3/154-158

Siksa orang yg meremehkan Sholat

... SIKSA ORANG YANG MEREMEHKAN SHALAT ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Fathimah ra, bertanya kepada Rasulullah saw.,

"wahai Ayahku! Apa siksa bagi orang yang meremehkan sholat, baik laki-laki maupun perempuan?"

Kemudian Rasulullah menjawab:

"Wahai Fathimah, barang siapa yang meremehkan shalat, lelaki maupun perempuan, maka Allah akan memberinya 15 petaka .

Enam diantaranya di dunia, tiga di saat kematiannya, tiga di dalam kuburnya, dan tiga pada hari kiamat di saat angun dari kuburnya."

Enam petaka yang diberikan kepada orang orang yang meremehkan sholat tersebut di antaranya adalah; Allah akan mencabut berkah umurnya, Allah akan mencabut berkah rezekinya, Allah akan menghapus ciri orang shaleh dari mukanya, semua amal yang dilakukannya tidak diberi pahala, doanya tidak terangkat ke langit, dan tidak mendapat bagian di dalam do'a orang orang shaleh.

Tiga petaka lainnya yang akan ditimpakan oleh Allah kepada orang yang meremehkan sholat di antaranya adalah; Matinya dalam keadaan terhina, lapar dan kehausan, rasa hausnya tersebut tidak akan hilang andaikan ia diberi minum satu sungai secara penuh.

Tiga perkara lainnya yang menimpa orang-orang yang meremehkan shalat di dalam kubur yaitu; Allah akan menyerahkan kepada malaikat yang menakutkan (mengerikan), kubur akan menjepitnya, kuburnya gelap gulita.

Sedangkan tiga lagi siksaan yang akan ditimpakan kepada orang yang meremehkan shalat adalah; Allah akan menyerahkan kepada malaikat dengan siksa malaikat tersebut akan menyeretnya dengan posisi terbalik, di hisab oleh Allah secara detail, Allah tidak akan menoleh padanya dan tidak mensucikannya dan baginya adzab yang pedih. (tafsir al muin: 576)

Wallahu a'lam bishshawab, ..
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

Ayo berhijablah saudariku.

01. "alah, yang pake hijab juga banyak yang cuma kedok" | ini pernyataan tendensius, sinis, dan mencerminkan kemalasan untuk taat

02. "yang berhijab belum tentu baik" | ini pernyataan pembenaran atas maksiat, sekaligus tanda-tanda putus asa

03. logikanya, bila seseorang melakukan keburukan | bukan berarti kita boleh menafikkan seluruh kebaikannya

04. namanya maksiat ya maksiat | mau berhijab dan nggak berhijab nilainya sama | sama-sama maksiat

05. bukan berarti berhijab lantas kalo maksiat lebih dosa | lantas harus nggak punya dosa baru berhijab

06. yang jelas berhijab itu udah usaha ngurangi maksiat | dan buka aurat itu jelas-jelas bagian maksiat

07. kalo ada yang berhijab lalu maksiat | ya bencilah maksiatnya, bukan nyalahin hijabnya | nggak nyambung kali.. =_=

08. bukan malah dikatain | "mending mana yang nggak hijab tapi baik, atau hijab tapi nggak baik" | nggak bener logikanya itu

09. "mendingan" itu dipakai dalam hal yang sama-sama baik | bukan untuk bandingin yang sama-sama jelek | kelir?

10. apa niat orang bilang "percuma jilbab cuma kedok aja"? | maksudnya dia "ya nggak papa kok kalo nggak hijab" | nantang Allah nih?

11. daripada bilang "percuma hijab kalo judes" | mendingan kamu contohin gimana itu yang bener | berhijablah dan lembutlah

12. daripada prasangka "hijab cuma jadi kedok aja" | mendingan kamu doain dia biar istiqamah dan jadi tambah baik | iya atau iya?

13. namanya kebaikan ya perlu latihan | kalo udah niat baik aja ya dihargai | disemangati biar menyempurnakan

14. kalo kamu belum bisa ikutan baik | mbok yao jangan malah ikutan mencela | minta aja dia doain kamu biar kamu ikut insyaf hehe..

15. orang berhijab itu udah ada benih kebaikan | pengen lebih deket ke Allah | kalo ada yang kurang ya kita bareng-bareng nasihati

16. doakan bukan merendahkan | hargai bukan dimaki | kelir bro and sis?

17. untuk yang udah berhijab juga sama | jangan berhenti belajar dan mendekat pada Allah

18. karena hijab bukan hanya badan | tapi juga hijab kelakuan | keduanya ayo disempurnakan

19. yang masih hijab gaul segera disyar'ikan | yang masih tabarruj segera dibenahi | semuanya "karena Allah"

20. karena Muslimah berhijab sejatinya adalah duta Islam | yang menampakkan wajah keindahan dan kebaikan Islam

Ayo berhijab

[Samsung Smart Camera] sent you files!

Mencoba posting foto